Cara Budidaya Artemia Sebagai Pakan Alami Dalam Usaha Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga

Oleh :
R. Abimanyu, S.Kel.

Pendahuluan

Setelah sebelumnya membahas tentang Cara Kultur Alga yang digunakan sebagai pakan alami dalam budidaya. Selanjutnya adalah Cara budidaya artemia.
Artemia menjadi penting dalam budidaya terutama usaha pembenihan, karena artemia merupakan zooplankton yang digunakan sebagai salah satu pakan hidup pada fase awal setelah telur ikan maupun udang menetas. Zooplankton ini penting sebagai pakan pada fase larva udang maupun ikan yang memiliki bukaan mulut terlalu kecil untuk diberikan pakan buatan. Maka, jika alga diberikan pada larva udang yang berusia 3-10 hari, pemberian nauplius artemia sangat baik untuk diberikan pada larva udang sejak usia 8 hari sampai 30 hari (stadium mysis-post larva / larva siap panen). Pada usia tersebut larva udang sudah dapat mengejar dan menangkap pakan hidup yang diberikan.
Untuk lebih lengkapnya berikut ini petunjuk budidaya artemia yang disarikan dari Buku Petunjuk Menuju Budidaya Udang Semi Intensif dan Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga yang dipublikasikan oleh Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian, Departemen Pertanian Tahun 1990, dan juga dari beberapa literatur lainnya. Maka dalam uraian berikut merupakan pengaplikasian budidaya artemia khususnya dalam budidaya benih udang skala rumah tangga namun juga dapat diapliasikan pada budidaya lainnya yang membutuhkan pakan zooplankton terutama artemia.

Manfaat Budidaya Artemia

Perlu dipahami, manfaat dari budidaya artemia dalam usaha budidaya pembenihan khususnya larva udang adalah untuk mendapatkan ketersediaan zooplankton yang dapat dipergunakan sebagai pakan hidup terutama artemia bagi larva udang yang dipelihara dengan skala rumah tangga karena bukaan mulut larva udang telalu kecil untuk pakan buatan.

Persiapan Budidaya Artemia

1.       Wadah Penetasan Artemia

   -  Bentuk spesifik dari wadah budidaya artemia adalah berbentuk kerucut denga bagian lamcipnya berada di bawah, sehingga hanya dengan satu aerasi di dasar wadah dapat mengaduk air secara merata. Jika tidak ada wadah berbentuk kerucut. Maka dapat diakali salah satunya dengan cara membuatnya dari ember yang bagian bawahnya dibuang lalu disambung dengan corong plastik. Dan pastikan diameter dasar ember pas dengan diameter mulut corong.
   -  Ember dengan ukuran 12 liter dapat digunakan untuk menetaskan sist artemia sebanyak 30-50 gram.

Contoh pembuatan wadah sederhana penetasan artemia


2.    Penyiapan Sist Artemia

Artemia yang digunakan adalah artemia yang dijual kalengan, sehingga biasanya masih dalam bentuk sist. Sist adalah kondisi alami dari artemia yang masih terbungkus dalam bentuk kapsul/gelembung. Sist tersebut sebenarnya dipergunakan oleh artemia sebagai mekanisme mempertahankan diri saat kondisi lingkungan kurang menguntungkan. Oleh karena itu, selum artemia ditetaskan, maka perlu dilakukan dekapsulasi. Dengan cara :

  1. PERENDAMAN butiran sist artemia dalam air tawar atau air laut selama 2 jam.
  2. PENCUCIAN dengan larutan clorin atau kaporit (1 kaleng artemia 454gr diperlukan 10 liter air dengan 1,5 liter clorin atau 250 gram kaporit).
  3. PENGADUKAN dilakukan sampai sist berubah warna dari coklat menjadi oranye. Dengan suhu dijaga tetap di bawah 400C. Selanjutnya,
  4. NETRALISASI dengan cara dicuci dengan air bersih dalam saringan 120 mikron, lalu di netralkan dengan larutan Natrium Thiosulfat 1 ppm.
  5. Poses dekapsulasi selesai dan sist siap untuk ditetaskan segera. Atau disimpan di dalam lemari pendingin bersuhu 40C dalam jangka waktu tidak lebih dari 1 bulan agar tidak berkurang daya tetasnya.

Penetasan artemia

1.  Banyaknya sist artemia yang akan ditetaskan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diantaranya :
a.       Jumlah larva udang yang dipelihara
b.      Daya tetas dari sist artemia
c.       Satu gram sist artemia dapat menghasilkan 150.000 – 220.000 ekor nauplius Artemia. Sebagai patokan 1 ekor larva udang membutuhkan 30 – 50 nauplius Artemia per hari.
2.  Penetasan Artemia dilakukan dalam wadah penetasan berbentuk kerucut yang sudah dibuat sebelumnya dengan menggunakan air laut yang pada dasar wadah diberi airasi kuat. Agar penetasan berhasil dengan baik, kepadatan artemia 30-50 gram sist per 10 -12 liter air laut. Atau sesuai dengan petunjuk penetasan yang ada pada label kemasan artemia.
3.   Penetasan telur artemia ditandai dengan perubahan warna iar diwadah penetasan, dari warna oranye menjadi merah bata.

Contoh wadah budidaya artemia untuk pakan larva udang


Pemanenan

1.       Setelah telur artemia menetas (lebih kurang 24 jam) aerasi dihentikan sementara hingga sist artemia yang tidak menetas mengendap di dasar corong hingga dapat diambil dan dipisahkan dengan artemia yang telah menetas. Lalu aerasi kembali dilanjutkan.
2.       Pemanenan artemia sudah dapat dilakukan dengan cara penyiponan dengan dialirkan kedalam saringan 100 mikron atau net penyaring ukuran T-61. Bila net tersumbat menandakan banyak artemia yang tersaring.
3.       Pidahkan artemia dari net penyaring ke dalam ember pakan berisi air laut dengan tetap diberikan aerasi di dalam ember. Pemanenan dilanjutkan sampai mencukupi untuk kebutuhan pakan larva udang. Selanjutnya sebarkan artemia ke bak pemelihaaan larva secara merata.

Penutup

Demikian cara budidaya artemia yang dipergunakan sebagai pakan alami dalam budidaya pembenihan udang. Artemia sangat baik digunakan untuk pakan larva udang stadium mysis sampai dengan post larva. Secara singkat cara penyediaan artemia yang baik adalah :
1.       Menyiapkan tempat/wadah penetasan artemia.
2.       Melakukan dekapsulasi sist artemia yang akan ditetaskan.
3.       Tetaskan sist artemia sesuai kebutuhan.
4.       Lakukan pemanenan artemia dan pemberian ke bak pemeliharaan larva udang secara tepat.

Artikel ini merupakan bagian dari Tutorial Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama