Cara Kultur Alga Sebagai Pakan Alami Dalam Usaha Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga


Oleh :

R. Abimanyu, S.Kel.

Pendahuluan

Alga atau dalam bentuk jamaknya disebut algae, berdasarkan cara budidayanya terbagi menjadi dua kelompok yaitu makro dan mikroalgae. Makroalgae merupakan kelompok alga yang berukuran cukup besar untuk tidak perlu dilihat menggunakan mikroskop (makroskopis). Jenis algae ini beberapa diantaranya di konsumsi oleh manusia baik secara langsung maupun produk olahannya yang dikenal dengan nama pasar sebagai rumput laut.  Sedangkan mikroalgae merupakan kelompok algae yang berukuran mikroskopis, cencerung bersifat planktonik sebagai fitoplankton, dapat berukuran kurang dari 2 ยตm (picoplankton/ultraplankton). Meskipun demikian, keberadaan fitoplankton ini diperairan tidak dapat diabaikan. Kemampuannya untuk menangkap energi radiasi matahari dalam proses fotosintesis yang dilakukannya, menyumbang produksi oksigen yang tidak sedikit bagi bumi bahkan diperkirakan lebih besar dari pada tumbuhan darat.
Selain itu, sebagai produsen primer diperairan, mikroalgae ini juga penting sebagai makanan bagi larva organisme lain. Sehigga dapat dimanfaatkan dalam proses budidaya, terutama dalam usaha budidaya pembenihan sebagai pakan hidup.
Berikut ini petunjuk budidaya mikroalgae yang disarikan dari Buku Petunjuk Menuju Budidaya Udang Semi Intensif dan Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga yang dipublikasikan oleh Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian, Departemen Pertanian Tahun 1990, dan juga dari beberapa literatur lainnya. Maka dalam uraian berikut merupakan pengaplikasian budidaya mikroalgae khususnya dalam budidaya benih udang skala rumah tangga.

Manfaat Budidaya Alga

Perlu dijelaskan terlebih dahulu, manfaat dari budidaya mikroalgae dalam usaha budidaya pembenihan adalah untuk mendapatkan kultur/biakan algae yang dapat dipergunakan sebagai pakan hidup bagi larva udang yang dipelihara dengan skala rumah tangga karena bukaan mulut larva udang telalu kecil untuk pakan buatan.

Jenis Alga yang dikulturkan

Jenis algae yang dikulturkan merupakan fitoplankton yang sesuai bagi larva udang yang berusia 3-10 hari atau stadia zoea – mysis, alga tersebut adalah :
  • 1.       Skeletonema costatum ­– berwarna coklat
  • 2.       Tetraselmis chuii – berwarna hijau
  • 3.       Chaetoceros calcitran – berwarna coklat

Dalam usaha pembenihan udang skala rumah tangga tersebut, kultur algae yang dilakukan hanya kultur masal saja, sedangkan bibit/kultur awal diperoleh dari pembenihan skala besar maupun membeli dari kolektor alga. Silakan browse di internet, banyak yang menjual bibit alga dengan jenis dan harga yang bervariasi.

Menurut Borowtzka dan Borowtzka tahun 1988, berikut beberapa jenis mikroalgae / fitoplankton lain yang dapat dikultur sebagai pakan alami.

Kelas
Genus
Contoh Penerapannya
Bacillariopiceae
Actinocyclus
PLM

Bellerochea
PLM

Chaetoceros
LUP, LM, PLM, ART

Cyclotella
ART

Chylindrotecha
LUP

Nitzschia
ART

Phaedactylum
LUP, LM, PLM, LUAT, ART

Skeletonema
LUP, LM, PLM

Thalassiosira
LUP, LM, PLM
Chlorophyceae
Brachiomonas
PLM

Carteria
PLM

Chlamydomonas
LM, PLM, ZAT, RL, ART

Chlorella
LM, LUAT, ART, RL, ZAT

Chlorococcum
PLM

Dunaliella
PLM, ART, RL

Nanochloris
PLM, RL, C

Schenedesmus
ZAT, RL, C
Chrysophyceae
Pavlova (Monochrysis)
LM, PLM, ART, RL
Chryptophyceae
Chroomonas
PLM

Chryptomonas
PLM

Rhodomonas
PLM, LM
Cyanophyceae
Spirulina
PLM, ART, LUP, RL
Haptophyceae
Coccolithus
PLM

Cricosphaera
PLM

Dicrateria
PLM

Isochrysis
PLM, LM, LUP, ART, LUAT

Pseudoisochrysis
PLM, LM, LUAT
Prasinophyceae
Micromonas
PLM

Platimonas (Tetraselmis)
PLM, LUP, LM, ART, LA

Pyramimonas
PLM, LM
Xanthophyceae
Olisthodiscus
PLM

Keterangan : LM (Larvae Moluska), PLM (Post Larvae Moluska), LUP (Larva Udang Panaeid), ART (Artemia), LUAT (Larva Udang Air Tawar), LA (Larvae Abalone), C (Copepoda), ZAT (Zooplankton Air Tawar), RL (Rotifera Laut)

Persiapan kultur alga

1.       Pembuatan Bak Algae

a.    Bak dapat dibuat dari pasangan batu bata maupun papan kayu yang dilapisi dengan pastik pada sisi bagian dalamnya. Setiap bak memiliki ukuran 1 m x 2 m x 0,8 m sebanyak 2 buah bak. Dengan ukutan tersebut diharapkan dapat menyediakan makanan hidup berupa plankton (fitoplankton) untuk selama satu siklus pemeliharaan larva.
b.   Bak alga tersebut dilengkap dengan tutup yang terbuat dari bahan tembus cahaya seperti fiber glass bening agar alga yang dikultur memperoleh cahaya matahari namun tetap terlindung dari hujan.

Contoh bak kultur alga

2.       Pembersihan dan Pemupukan media

1.      Bersihkan bak alga (bak kultur fitoplankton). Dicuci dengan sabun dan detergen, kemudian dibilas dengan larutan clorin 150 ppm (150ml per 1000 liter air)
2.      Bersihkan selang dan baru airasi dengan cara yang sama.
3.      Bersihkan air untuk media budidaya alga asebelum digunakan, caranya
a.   Tambahkan larutan clorin 60 ppm ke dalam air media dan beri aerasi dengan 2 buah batu aerasi setiap meter persegi luas dasar kolam kultur, selama lebih kurang 60 menit. Kemudian, tambahkan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) sebanyak 20 ppm untuk menetralisir kadar clorin.
b.      Beri penyinaran matahari yang cukup untuk memperoleh sinar ultra violet.
4.   Beri pupuk untuk memperkaya kandungan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan dan pertumbuhan alga. Pupuk yang dibutuhkan untuk masing-masing alga adalah sebagai berikut :
a.     Pupuk untuk Skeletonema sp dan Chetoceros sp
-          KNO3             : 100 ppm
-          NaH2PO4      :   10 ppm
-          Na2SiO3        :   10 ppm
-          FeCl3             :     2 ppm
-          EDTA             :     5 ppm

b.     Pupuk untuk Tetraselmis sp
-          Urea              : 80 ppm
-          TSP                 : 15 ppm
-          ZA                   : 20 ppm
-          FeCl3              :   2 ppm
-          EDTA             :   5 ppm

Penebaran Bibit Algae

  1.  Tebarkan bibit algae yang pekat dengan padat penebaran 1:10 sampai dengan 1:20 dari volume air media kultur.
  2. Beri aerasi dan sinar matahari yang cukup.
  3. Waktu penebaran sebaiknya di pagi hari.


Pemanenan

a.       Lakukan pemanenan algae pada waktu yang tepat, yaitu sebelum terjadi penurunan populasinya.
1.       Tetraselmis sp pemanenan dilakukan 3-4 hari setelah penebaran benih alga pertama.
2.       Skeletonema sp dan Chaetoceros sp dapat dipanen setelah 1-2 hari setelah penebaran benih alga pertama.
b.      Tetraselmis sp dan Chaetoceros sp tidak dapat dipanen dengan saringan, sehingga harus diberikan bersama air.
c.       Sedangkan panen Skeletonema sp dilakukan dengan menggunakan plankton net berukuran 15 mikron atau kain sablon T.150, dapat juga dipergunakan kain saten. Bila saringan sudah tersumbat berarti Skeletonema sp sudah banyak terkumpul. Selanjutnya pindahkan dari dalam kantong saringan ke dalam ember pakan yang berisi air laut dan telah diberi aerasi.
d.      Penyaringan dari 1meter kubik air bak algae dapat digunakan sebagai pakan larva ke dalam 10 – 20 meter kubik bak air pemeliharaan larva.
e.      Proses di atas diulang sampai jumlah algae yang diperlukan telah mencukupi.
f.        Kemudian algae didistribusikan merata ke bak pemeliharaan larva udang.

Faktor yang Mempengaruhi Produksi Algae

Secara ringkas, berikut beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi algae di bak algae.
1.       Cahaya
Sebagai organisme fotosintesis, cahaya matahari merupakan sumber energi radiasi yang tersedia untuk alga dapat melakukan fotosintesis sehingga dapat hidup dan berkembang biak.
2.       Medan Cahaya Bawah Air (Underwater Light Field)
Sejumlah faktor mempengaruhi medan cahaya bawah air. Seperti sudut kemiringan matahari dan juga partikel-partikel di dalam air yang menaham penetrasi cahaya ke bawah.
3.       Suhu
Suhu lingkungan kultur sebaiknya disesuaikan dengan asal bibit/stok alga. Stok kultur alga bisanya disimpan pada suhu 20-250C dengan variasi 50C. Untuk spesies tropis biasanya tumbuh baik pada suhu 300C.
4.       pH
pH disesuaikan dengan habitat alami alga tersebut. Untuk algae yang dipergunakan dalam budidaya larva udang, dipergunakan alga perairan payau yang memiliki pH antara 7-9.

Penutup

Demikian cara kultur alga yang dipergunakan sebagai pakan alami dalam budidaya pembenihan udang. Selain dipergunakan sebagai pakan alami dalam budidaya udang, kultur alga jenis lainnya dapat pula dimanfaatkan langsung oleh manusia sebagai suplemen makanan, yaitu dari jenis Spirulina sp.

Artikel ini merupakan bagian dari Tutorial Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga

Artikel berikutnya tentang Budidaya Artemia






Post a Comment

Lebih baru Lebih lama