Pemeliharaan Larva Udang Skala Rumah Tangga (Tahap 1 : Persiapan)

Oleh :
R. Abimanyu, S.Kel.

Pendahuluan

Setelah pada bab-bab sebelumnya membahas tentang berbagai hal yang harus dipersiapkan dalam memulai pemeliharaan larva udang skala rumah tangga, seperti budidaya algae, budidaya artemia, penyiapan bak budidaya dan melengkapi berbagai alat yang dibutuhkan dalam budidaya. Maka tahapan selanjutnya adalah memasuki pembahasan inti, yaitu cara pemeliharaan larva udang skala rumah tangga.
Secara garis besar, pada bagian ini terbagi menjadi beberapa tahap, meliputi :
  • 1.       Persiapan
  • 2.       Perawatan
  • 3.       Pengendalian Penyakit
  • 4.       Panen dan Penanganan paska panen.

Pada tahap pertama ini meliputi tahap persiapan dan cara memperoleh nauplius udang. Manfaat tahap ini yaitu untuk menghasilkan benur dengan mutu baik dan juga memperoleh benih udang yang memiliki keberlangsungan hidup yang tinggi.

1.     Persiapan

Pada tahap persiapan, setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :
a.       Berasihkan bak pemeliharaan dari kotoran dengan sikat dan bilas. Basuh dinding dan dasar bak dengan larutan clorin 60 ppm atau larutan kaporit 10 ppm. Dapat juga digunakan larutan formalin 50 ppm. Biarkan kering selama 1-2 jam, agar sisa-sisa bahan kimia menguap.
b.      Bak diisi air laut yang telah disaring sampai kedalaman 100 cm. Air media pemeliharaan tersebut harus diperhatikan agar memenuhi persyaratan teknis, yaitu :
-          Berkadar garam 28-32 ppm
-          Jernih dan bebas pencemaran
Pada saat memasukkan air ke dalam bak, menggunakan saringan air yang memiliki ukuran 100 mikron. Dan bila sumber air berwarna keruh, maka hendaknya diendapkan 1-2 malam lalu disiphon sebelum dimasukkan ke dalam bak.
c.       Untuk menciptakan aerasi yang baik. Maka perlu dipasang blower, selang plastik dan batu aerasi sebanyak 2-5 buah dalam setiap meter persegi luas permukaan. Sedangkan khusus pada saat tahap penetasan telur sebaiknya aerasi yang digunakan tidak terlalu kuat, kurang lebih 3 liter/menit/m2  luas permukaan.

2.     Sumber Nauplius

Nauplius secara sederhana adalah telur udang yang baru menetas. Nauplius dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu :
a.       Membeli / menyewa induk matang telur.
b.      Membeli Nauplius.

2.1.           Perlakuan Induk matang telur

1.       Pilihlah induk yang telah mencapai perkembangan telur (tingkat III). Pengadaan induk dapat berasal dari laut (tangkapan nelayan), maupun dari pengusaha pembenihan yang menyediakan induk ablasi.
2.       Usahakan kondisi lingkungan tenang selama proses peneluran, dengan memberikan aerasi sepertiga dari aerasi biasanya.
3.       Setelah bertelur, induk segera diambil dan aerasi diberikan secara normal.
4.       Selama proses induk bertelur, kondisi bak harus kedap cahaya yaitu dengan menutup bak.
5.       Telur yang baik akan menetas setelah 9-12 jam dilepas oleh induknya. Telur-telur yang menetas itu disebut nauplius.
induk matang telur

2.2.           Penebaran Nauplius

1.       Nauplius dapat diperoleh dengan membelinya dari unit-unit pembenihan.
2.       Untuk penebaran lakukan pemilihan nauplius yang baik dengan ciri sehat, aktifitas berenang tinggi ditandai dengan periode istirahat yang relatif singkat.
3.       Dengan pembelian nauplius mintalah jaminan bahwa larava yang diterima sudah jelas mutu dan jumlahnya.
4.       Lakukan trasnportasi yang tepat, bila harus diangkut dari tempat yang relatif jauh maka cara pengangkutannya yaitu:
a.       Cara tertutup, menggunakan kantong pastik dilengkapi dengan penambahan oksigen. Kepadatan larva antara 50.000/kantong plastik dengan volume air 10 liter. Lama waktu pengangkutan maksimal 10 jam dengan suhu 25 0C.
b.      Cara terbuka, menggunakan jerigen dilengkapi dengan aerasi dengan kepadatan yang sama, waktu pengangkutan maksimal hanya 3 jam.
5.        Sebelum penebaran nauplius ke dalam bak, perlu dilakukan pengadaptasian terhadap suhu dan kadar garam air bak pemeliharaan sekitar 10-15 menit. Padat penebaran nauplius dalam bak pemeliharaan larva adalah antara 40-80 ekor/liter air, tergantung dengan kemampuan untuk menyediakan air pengganti pada saat penggantian air secara berkala. Semakin padat maka penggantian air semakin sering untuk mencegah penumpukan sisa makanan dan kotoran yang dapat memicu turunnya DO dan meningkatkan amonia.

2.3.           Perkembangan Larva Selama Pemeliharaan

Perkembangan larva dari nauplius yang ditebarkan dalam bak pemeliharaan sampai dengan panen adalah sebagai berikut :
1.       N (Nauplius)
N (Nauplius) gerakannya terputus-putus. Bentuknya bundar. Selalu bergerak yang diselingi dengan  periode istirahat (diam) selama beberapa saat sebelum kembali bergerak. Fase ini berlangsung selama <3 hari.
Nauplius

2.       Z (Zoea)
Z (Zoea) mempunyai ciri aktif bergerak, selalu makan sehingga pada bagian belakang tubuhnya selalu menempel kotoran yang menyerupai ekor. Fase ini berlangsung selama 3-4 hari.
Zoea

3.       M (Mysis)
M (Mysis) mempunyai ciri badan bengkok, gerakannya selalu melenting, berenang mundur. Fase ini berlangsung selama 3-4 hari.
Mysis

4.       PL (Post Larva)
PL (Post Larva) memiliki ciri badan lurus dan berenang maju.
Post Larva

Penutup

Demikian bab pemeliharaan larva udang tahap 1 yaitu persiapan. Secara garis besar, tahap persiapan ini meliputi sterilisasi bak budidaya dan usaha memperoleh nauplius, yang dapat diperoleh dengan membeli indukan maupun membeli nauplius. Juga pada bab ini,  sedikit dijabarkan tahapan perkembangan larva udang dari telur hingga PL.
Maka pada postingan selanjutnya. Kita akan memasuki sub bab berikutnya, yaitu tahap pemeliharaan larva udang tahap 2 : Perawatan. 

Artikel ini merupakan bagian dari Tutorial Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga

Jika Anda suka silakan share ke sosial media yang anda miliki

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama